INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Dua kalimat penyebab Megawati dilaporkan

Dua kalimat penyebab Megawati dilaporkan
KantoMaya News -- Presiden kelima Megawati Soekarnoputri dilaporkan ke Bareskrim, Mabes Polri, karena dituding menodai agama, Selasa (24/1).
Pelapornya, Baharuzaman (51 tahun), dari lembaga swadaya masyarakat Aliansi Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama.

Mantan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jakarta Utara itu menuduh Megawati melanggar Pasal 156 huruf a dan atau Pasal 156 KUHP soal penodaan agama.

Kuasa hukum Baharuzaman, Azam Khan menyebut laporan Baharuzaman bermula saat kliennya itu menyaksikan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) itu berpidato dalam ulang tahun ke-44 PDIP di Jakarta.

Pidato tersebut disiarkan di televisi, Selasa (17/1). Baharuzaman, kata dia, berinisiatif merekam pidato tersebut.

Bersama beberapa anggota Aliansi Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama kemudian membahas pidato itu sebelum akhirnya sepakat tentang ucapan Megawati yang menurut mereka menodai agama.

Ada dua kalimat yang Baharuzaman yakini menodai agama.

Kalimat pertama yang dipermasalahkan berbunyi, "

Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memposisikan diri mereka sebagai pembawa self fullfilling prophecy, para peramal masa depan".

Sementara kalimat kedua berbunyi,

"Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, padahal, notabene mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya".

Menurut Baharuzaman pidato itu telah menyinggung rukun iman kelima, sebagaimana tertulis dalam kitab suci Alquran.

Dia menilai setelah dunia fana itu berarti hari akhir. Hari akhir itu tercantum dalam rukun iman kelima. "Sementara rukun iman itu terdapat di dalam Alquran yang merupakan firman Allah," kata Baharuzaman seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menyatakan, polisi masih mempelajari laporan Baharuzaman. "Ya proses hukum seperti biasa," ujar Boy seperti dipetik dari Detik.com.

Boy menjelaskan, lazimnya sebuah laporan akan diawali dengan penyelidikan. "Penyelidikan inilah untuk menentukan apa benar ada atau tidaknya tindak pidana sehingga bisa dinaikkan status jadi penyidikan," ujar Boy.

Karena masih mempelajari laporannya, Polri hingga saat ini belum menentukan siapa saja pihak yang akan dimintai keterangan.

PDIP tidak tinggal diam ketua umumnya dilaporkan ke polisi. PDIP akan melaporkan balik pelapornya. "Kami akan bersikap tegas. Jika laporan itu tidak ada bukti dan fakta, kami akan mengambil tindakan hukum untuk melaporkan mereka (pelapor)," kata politikus PDIP Junimart Girsang.

Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat DPP PDIP Eva Kusuma Sundari menuding, laporan ini sarat dengan kepentingan dan ambisi politik kelompok tertentu.

Menurutnya, saat ini, hukum telah dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan lawan politik.

Sebelumnya, Pimpinan FPI Rizieq Shihab hendak melaporkan Megawati karena pidato tersebut. Tapi urung.

Rizieq menyebut, jika ada selisih lebih baik diselesaikan lewat jalur kekeluargaan. Dia tak mau didorong-dorong untuk melaporkan Megawati. "Tapi alangkah baiknya itu didialogkan secara kekeluargaan," kata Rizieq seperti dinukil dari Republika.

Baharuzaman membantah jika laporannya dikaitkan dengan FPI. Dia mengklaim laporan murni berdasar niat pribadi. "Enggak ada berdasarkan pernyataan Rizieq Shihab," ujar Baharuzaman.

Beritagar.id
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Loading...