INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Pantaskah Kita Berbangga Diri di 70 Indonesia Merdeka?

Pantaskah Kita Berbangga Diri di 70 Indonesia Merdeka?

KantoMaya News - Hari ini, 17 Agustus 2015, kita dengan suka cita merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Apa yang sudah dicapai bangsa ini setelah 70 tahun? Sudah pantaskah
kita berbangga diri?

Human Development Index (HDI) Indonesia sebagai salah satu tolak ukur perkembangan suatu negara memang mengalami peningkatan dari urutan 121 pada 2012 menjadi urutan 108 di 2014, yang kemudian membuat kita masuk kategori negara Medium Human Development.
Namun, tengoklah Singapura dan Malaysia, yang umurnya jauh lebih 'muda'.

Peringkat HDI Singapura dan Malaysia jauh di atas kita. Masing-masing "tetangga" kita itu ada peringkat 9 dan 62, dan masuk kategori Very High Human Development dan High Human Development. Sementara itu, Vietnam, si "anak kemarin sore", secara perlahan tapi pasti sudah mengintai di posisi 121.

Keajaiban Jepang


Seperti juga Indonesia, Jepang pun pernah terpuruk pada 1945, menyusul kekalahan mereka dalam perang dunia kedua. Namun, Jepang membutuhkan kurang dari 50 tahun untuk bangkit dari keterpurukannya, yang bukan saja sudah hancur secara fisik lantaran dibumihanguskan oleh AS dengan dijatuhkannnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, namun juga keterpurukan harga diri dengan kekalahan yang memaksa sang kaisar, sang putra matahari, sang panutan, mengakui kekalahan Jepang dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Peace Memorial Museum di Hiroshima merupakan etalase kesedihan, kehancuran, keputusasaan Jepang, terlebih karena banyaknya anak-anak tak berdosa menjadi korban bom atom. Yushukan War Memorial museum di Tokyo, yang merupakan museum sejarah kemiliteran Jepang, bahkan bercerita banyak tentang catatan kelam dan kesedihan para ibu yang harus merelakan putra tercintanya menjadi penerbang Kamikaze yang "kontrak mati" dalam penyerangan Pearl Harbor. Atau, kesedihan para kakak perempuannya yang harus merelakan para adiknya tewas di pertempuran di Birma.

Namun, dari kedua museum tersebut, anehnya, tidak tertangkap sedikitpun pesan tentang penyesalan atau pesimisme bangsa Jepang. Justru, yang jelas terasa adalah aura semangat, patrotisme, pantang menyerah, dan totalitas untuk bangkit lagi, bahkan dari titik nol sekalipun!

Kemajuan Jepang bukanlah keajaiban, melainkan diperoleh melalui semangat juang yang tinggi, disiplin dan kerja keras yang dilandasi nilai lhuru budayanya. Budayalah yang dijadikan panglima sehingga apapun yang mereka lakukan tak pernah melenceng dari budaya dan nilai luhur tersebut.

Budayalah yang menyatukan rakyat Jepang, dan menggerakkan diri mereka untuk maju. Mereka membangun spirit dan jiwa bangsa terlebih dahulu melalui budaya sebelum mereka membangun kembali negaranya secara fisik.

Hal serupa dilakukan oleh Mahathir Muhammad di era 80-an, yaitu saat membawa Malaysia dari negara berbasis pertanian dan perkebunan yang sama sekali tidak diperhitungkan menjadi negara industri. Bukan infrastruktur atau menara kembar dulu yang dibangun, tapi identitas nasional dan jiwa kebangsaan yang menjadi prioritas. Mahathir mengucurkan investasi besar-besaran di sektor pendidikan untuk mendidik anak muda Malaysia yang berkarakter, yang percaya diri dan berjiwa.

"Quo vadis" jiwa kebangsaan?

Lalu, kemana jiwa yang membawa bangsa yang tidak memiliki infrastruktur apapun, kas negara yang kosong, bangsa yang masih banyak penduduknya buta huruf tapi berani menyatakan kemerdekaannya 70 tahun lalu? Kemana?

Kita tanyakan pada diri kita sekarang, mengapa kita saat ini lebih senang meributkan perbedaan ketimbang mencari 'common ground' kita sebagai batu pijakan. Common ground itu adalah budaya dan nilai luhur. Sama seperti Jepang, kita juga punya modal budaya yang sangat kuat seperti budaya gotong royong, pengabdian, kesetiaan, patriotisme dan kebersamaan.

Nah, mengapa kita lebih senang membangun lebih banyak mal dibandingkan gedung kesenian yang bagus untuk membangun jiwa anak bangsa? Mengapa anggaran pendidikan kita lebih diprioritaskan untuk membangun infrastruktur, tapi bukan pada pengembangan kapasitas guru (teachers development)? Mengapa pendidikan karakter, agama dan budi pekerti masih bersifat dogmatif dan normatif dan belum eksploratif dan analitis?

Mengapa akhirnya kita lebih bangga berfoto dengan latar gunung Titlis di Swiss atau pantai Waikiki di Hawaii dibandingkan dengan berfoto dengan latar gunung Ijen di Jawa Timur atau pantai pasir putih di Pulau Lengkuas, Belitung? Jangan-jangan, memang, kita mungkin telah kehilangan jiwa dan kesadaran kebangsaan kita?

Percepatan jiwa dan kesadaran kebangsaan adalah percepatan dalam sebuah grafik eksponensial mencapai cita-cita proklamasi. Dengan perubahan dunia yang semakin cepat dan dinamis tidak mungkin kita mencapai tujuan kita hanya dengan kecepatan tetap seperti sebuah fungsi linier biasa. Tak akan bisa kita mengejar, apalagi melampaui yang lain, termasuk kedua tetangga kita; Singapura dan Malaysia!

Kita perlu booster yang dulu juga dipakai oleh Soekarno-Hatta untuk berangkat membawa bangsa ini menuju pintu gerbang kemerdekaan. Generasi muda kita perlu booster yang sama, yaitu 'sense of urgency' seperti dimiliki para pemuda yang pada 70 tahun lalu mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamirkan kemerdekaan, jika memang kita mau mencanangkan 2045 sebagai tahun emas kita.

Bangunlah Jiwanya!
Mari kita bangun Indonesia yang berjiwa. Mari kita didik anak-anak negeri dengan pendidikan yang membangun rasa dan jiwa. Dengan begitu, 30 tahun lagi, pada 2045 nanti, perayaan 100 tahun Republik Indonesia kita ini adalah perayaan kemerdekaan yang sesungguhnya, bukan sekedar perayaan simbolis dengan sekedar berteriak yel-yel merdeka. Merdeka!

Tidak demikian! Sejatinya, 100 tahun Kemerdekaan RI nanti bukan sekadar perayaan dengan lomba makan kerupuk dan balap karung, bukan juga sekedar perayaan dengan berbagai sale 17-an di mal-mal mewah atau parade 17-an "moge" yang arogan, tapi perayaan yang "sesungguhnya" dengan peringkat HDI di 25 besar, menjadi prime mover di ASEAN, dan sumber daya manusia yang memiliki daya saing global.

Sepertinya, memang bukan tanpa alasan Wage Rudolf Supratman menempatkan kata 'jiwa' dulu sebelum kata 'badan' pada lagu kebangsaan kita: 'Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya'.

Maka, mari bangunlah jiwa Indonesia menuju tahun emas 2045! Merdeka!

Penulis adalah pemerhati pendidikan dan bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta


Sumber : Kompas.com
 
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Loading...