INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Aceh : Ada Apa di Masjid Raya Baiturahman?

Aceh : Ada Apa di Masjid Raya Baiturahman?


KantoMaya News - SEJAK dua Jumat lalu publik Aceh heboh dengan kasus keributan di Masjid Raya Baiturrahman. Kejadian menjelang pelaksanaan ibadah Jumat itu karena perbedaan cara pandang dalam tata tertib Jumat.

Kejadian sebenarnya tidaklah terlalu besar. Tidak ada kontak fisik atau perdebatan. Hanya sedikit orasi dan tindakan kecil lainnya. Tapi di media sosial kasus ini sudah dua minggu menjadi trending topic.

Bahkan bukan hanya sekadar saling berargumen tapi saling hujat dan caci maki. Islam adalah agamarahmatan lil alamin. Islam agama damai. Kejadian ini terjadi di bulan Ramadan. Bulan di mana kita harusnya memperbanyak ibadah. Dan kasus ini tak patut terjadi.

Apapun masalahnya selesaikan dengan kepala dingin. Kedepankan musyawarah. Konon kita masih bersyahadat yang sama. Bertuhan yang sama, bernabi yang sama. Bahkan sama-sama Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman atau MRB adalah masjid provinsi berada di bawah penguasaan Pemerintah Aceh. Dalam hal ini para pihak harusnya berbicara dengan pimpinan Pemerintah Aceh. Bukan malah saling gontok-gontokan sesama orang kecil. Pengurus Masjid Raya saat ini harus membuka diri. Mereka hanya orang yang menjalankan tugas dari pemerintah. Intinya kedua pihak “Bek Peudong Beunueng Bulut.” Tidak boleh ada pihak yang merasa paling benar. Syurga dan neraka itu milik Allah. Jadi hanya Allah pemilik kebenaran mutlak.

Masjid Raya Baiturrahman tidak ada istimewa di mata Islam. Di muka bumi ini hanya tiga masjid yang punya nilai lebih yaitu, Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsha di Palestina.

Masjid Baiturrahman hanya punya nilai histori dan budaya bagi Aceh. Sehingga dari sudut pandang itu tidak akan ada istimewa di mata agama untuk saling bermusuhan untuk menguasai masjid ini. Kita kembalikan saja ke mekanisme masyawarah dan otoritas. Kedua pihak harus bermusyawarah. Hasilnya bawa ke pemilik otoritas yaitu gubernur.

Kita masyarakat sudah muak dengan segala pertentangan dan pertikaian. Mereka yang berilmu seharusnya menjadi panutan. Jangan menjadi aktor konflik baru di Aceh. Tidak mungkin keduanya tidak bisa dipersatukan. Tudingan yang menjurus penghakiman harus diakhiri. Tuduhan Wahabi dan lain-lain hanya akan memperbesar ruang konflik.

Toh, pada kenyataannya penudingpun belum tentu paling benar di sisi Allah. Islam tidak boleh dikotak-kotakkan. Selama mereka tidak menyimpang dari rukun iman dan rukun Islam, maka mereka adalah muslim. Benih perpecahan ini harus diwaspadai. Jangan sampai jadi kuda tunggangan konflik baru. Jangan sampai kita pindah dari konflik vertikal masa lalu menjadi konflik horizontal. Perdamaian ini amat mahal. Elit politik jangan diam saja. Jangan dorong rakyat saling cakar.

Turun, ajak musyawarah dan buat keputusan. Bagaimana kita menjaga dan membesarkan agama ini. Bila hanya persoalan khilafiah kedua pihak saling bersitegang. Saling merasa paling berhak dan paling pandai. Masalah ini harus segera selesai. Institusi agama lokal seperti MPU harus menjadi pendamai.

Silahkan para pihak saling bersitegang. Tapi cukup dalam ruang yang dihadiri para pemuka masing-masing. Jangan seret rakyat awam untuk ambisi masing-masing. Tidak ada yang paling berhak atas rumah Allah selain Allah sendiri. Jangan berhujjah dengan ayat Allah demi membangun hegemoni masing-masing. Musuh kita bukan bersemayam di ujung tongkat atau di pengeras suara. Musuh Islam adalah kebodohan, kemiskinan dan segala ancaman yang ingin menghancurkan Islam. Masjid adalah tempat kita menyembah Allah.

Jadi jangan jadikan masjid sebagai eksistensi kelompok. Allah tidak akan menjamin syurga bagi siapapun yang menguasai Masjid Baiturraman. Hanya ketaqwaan pribadi, kasih sayang sesamalah yang menjamin syurga. Tidak masuk syurga seorang mukmin kecuali dia mengasihi saudaranya seperti dia mengasihi dirinya, begitu bunyi sebuah hadis.

Intinya yang ingin merebut dan yang mempertahankan Masjid Raya Baiturahman sesungguhnya keduanya tidak punya hak atas rumah Allah itu. Rumah Allah diperuntukkan bagi hamba Allah. Tidak diperuntukkan untuk satu golongan saja. Maka bermusyawarah-lah. Jangan permalukan Aceh dan Islam.

Cukup sudah cobaan Allah atas bumi Aceh. Tak cukupkan konflik dan tsunami Allah timpakan? Sehingga para penguasa Masjid Raya dan para penyerang ingin menciptakan percikan api perpecahan baru. Semua juga tahu gubernurlah pengambil keputusan akhir untuk menentukan pengurus Masjid Raya Baiturahman. Maka kedua pihak harus menyampaikan kepada Beliau. Bukan saling menunjukan arogansi dalam rumah Allah. Semoga kita sadar perpecahan sesama Islam adalah salah satu musuh terbesar umat itu sendiri.

Sumber : Portalsatu.com
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Loading...