INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Berita Ibu Negara Turki Menangis di Aceh, Hoax ?


Berita Ibu Negara Turki Menangis di Aceh, Hoax ?

KantoMaya News, Turki Rohingya. Berita Ibu Negara Turki mengunjungi pengungsi Rohingya di Aceh adalah Hoax, tidak benar. Fhoto yang memampang Istri Presiden Turki Reccep Thayyib Erdogan, Emine Erdo─čan, sedang menangis di hadapan seorang nenek tua Rohingya bukan berlokasi di Aceh melainkan di Myanmar pada tanggal 10 Agustus 2012.

Delegasi Turki ini dalam upaya untuk meredakan demonstarsi protes di negara tersebut atas tuduhan dan tuntutan terhadap Muslim Rohingya. Presiden Myanmar mengundang Organisasi Muslim Dunia untuk mengunjungi provinsi Myammar itu, Rakhine, untuk menyelidiki klaim pembantaian terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara berpenduduk mayoritas Buddha ini.

“Presiden mengatakan dia berharap Perwakilan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bisa menyaksikan realitas [di Rakhine],” Pemerintah Pusat Myanmar, New Light of Myanmar, mengatakan dan Badan Intelejen Myamnar, Agence France Presse (AFP) melaporkan pada hari Jumat, 10 Agustus 2012.



Presiden Thein Sein menambahkan bahwa puluhan ribu pengungsi dari kedua belah pihak sedang diberi makanan dan tempat tinggal.

Kepala OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu, Minggu ini mengusulkan untuk mengirim misi guna menyelidiki “pembantaian, penindasan dan pembersihan etnis” dari Rohingya di provinsi Rakhine.

Panggilan Badan Muslim Internasional kepada Pemerintah Myanmar ini menambahkan tekenan berat. Sebelumnya panggilan pernah dilayangkan oleh Mesir dan Arab Saudi untuk penyelidikan kerusuhan yang melanda negara ini selama tiga bulan terakhir.

Etnis Muslim Bengali, umumnya dikenal sebagai Rohingya, mengeluh penganiayaan dan diskriminasi di Burma. Ribuan Muslim Rohingya dipaksa meninggalkan rumah mereka pada bulan Juni setelah kekerasan etnis mengguncang provinsi barat, Rakhine, setelah pembunuhan sepuluh Muslim dalam serangan oleh warga Budha di bus mereka.



Serangan itu terjadi setelah pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Buddha, yang tiga Rohingya dihukum mati. Setidaknya 77 orang tewas dalam kekerasan dan ribuan rumah dibakar dan ratusan ribu orang mengungsi.

Kelompok hak asasi manusia menuduh polisi Burma dan pihak keamanan menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan penangkapan etnis Rohingya dibangun dari kerusuhan. Human Rights Watch menuduh pasukan Rabu Burma menargetkan muslim Rohingya yang dibangun dari kekerasan etnis.



Kelompok berbasis di New York menuduh pasukan keamanan Burma menargetkan muslim Rohingya dengan pembunuhan, pemerkosaan dan penangkapan disertai kerusuhan. Ratusan pria dan anak laki-laki Rohingya telah ditangkap dan ditahan di wilayah barat negara itu, kata kelompok itu.

Kunjungan Turki

Komentar Thein Sein muncul setelah kunjungan menteri luar negeri Turki yang berpenduduk mayoritas Muslim menawarkan bantuan kepada negara Rakhine atas perselisihan yang melanda.

“Pemerintahan (di Myanmar) mengatakan kematian sekitar seratus, tapi pemimpin Muslim di Rakhine yang kita telah melakukan kontak kepada saya, ia mengatakan bahwa kematian telah mencapai ribuan,” kata Davutoglu saat diwawancara di Ankara sebelum keberangkatannya.

Davutoglu menyiapakn perlengkapan medis dan sumbangan yang dikumpulkan oleh Bulan Sabit Merah Turki untuk diserahkan kepada “mungkin lebih dari 50.000 Muslim dan 20.000 Buddha” yang telah mengungsi dari rumah mereka akibat konflik ini.

Untuk meningkatkan kesadaran akan penderitaan Muslim di Myanmar, Hurriyet Daily News mengatakan istri Erdogan, Emine Erdogan, dan putri, Sumeyye Erdogan, akan menemani Davutoglu ke Myanmar, selain istri Davutoglu, Sare Davutoglu.

Presiden Thein Sein pada Kamis menyambut $ 50.000.000 bantuan sumbangan oleh Turki. Dia juga mendesak “menteri Turki untuk menjelaskan realitas di Myanmar” kepada OKI tersebut, AFP menambahkan.



Muslim Rohingya telah ditolak hak-hak kewarganegaraan sejak amandemen undang-undang kewarganegaraan pada tahun 1982 dan diperlakukan sebagai imigran ilegal di rumah mereka sendiri.

Pemerintah Myanmar serta mayoritas Buddha menolak untuk mengakui istilah “Rohingya”, merujuk kepada mereka sebagai “Bengali”.

Bulan lalu, Presiden Burma Thein Sein mengatakan bahwa Rohingya harus diselesaikan di negara ketiga.

Sumber : Bloggermesir. org
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :