INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Dokter muda asal Kota Langsa, Aceh, dikabarkan meninggal dunia di Dobo, Provinsi Maluku.

KantoMaya News, DOBO - Sebuah berita menyedihkan tentang kematian dokter yang mengabdi di daerah terpencil kembali tersiar.

Kali ini seorang dokter muda asal Kota Langsa, Aceh, dikabarkan meninggal dunia di Dobo, Provinsi Maluku.

Dia meninggal dunia setelah sempat koma beberapa lama akibat terserang demam dan dehidrasi.

Dokter tersebut bernama Afrianda Naufan (Nanda) yang tengah menjadi dokter internship di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Dobo adalah daerah yang sama mendiang dr Andra yang belum lama ini juga meninggal dunia saat menjalani tugas internship.

Menurut informasi yang diterima Serambinews.com dari kalangan dokter di Banda Aceh, Selasa (15/12/2015) malam, dr Nanda mengalami demam, dehidrasi hingga akhirnya dievakuasi ke RSUD di Ambon dalam keadaan koma.

Meski sudah menjalani perawatan, kondisi Nanda terus memburuk hingga akhirnya nyawanya tak terselamatkan.

Dokter Nanda adalah putra dr Hj Cut Diah Adivar MM, Direktur RS PTP Langsa Aceh. Dia berangkat ke daerah terpencil Maluku untuk menuntaskan kewajiban internship-nya.

"Jenazah dr Nanda akan tiba di Kuala Namu, Rabu besok siang, dan selanjutnya akan dibawa ke Langsa untuk pemakaman," tulis seorang dokter RSUZA Banda Aceh, mengabarkan kepada Serambinews.com.

Kasus ini memiliki kemiripan dengan kejadian yang menimpa dr Andra yang meninggal akibat penanganan tidak optimal di wilayah tersebut.

Dokter internship adalah dokter yang telah diangkat sumpah, sehingga mereka bukan lagi mahasiswa kedokteran seperti apa yang diutarakan Menteri Kesehatan sebelumnya.

Menurut informasi yang beredar, mereka ditugaskan di daerah terpencil dengan pesangon (bantuan hidup dasar) sebesar Rp 2,5 juta per bulan sebelum dipotong pajak.

Di luar penghasilan itu mereka harus membayar sendiri sejumlah uang untuk turut serta dalam program BPJS kesehatan.

Jika mereka meninggal saat tugas, menurut Kepala Opini Publik Kemenkes, Anjari Umarjianto keluarganya akan mendapatkan piagam dan santunan sebesar enam kali gajinya, yakni sekitar Rp 15 juta.
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Loading...